Sabtu, 15 Juli 2023

Berpusat pada murid

Sejak awal saya percaya bahwa sukses tidaknya pendidikan dan pengajaran, ditentukan oleh pelakunya sendiri.Pelaku utama pendidikan adalah murid itu sendiri. Menurut Goleman (1995) Murid yang memahami tujuan belajarnya cenderung lebih berhasil dalam belajarnya daripada yang tidak. Goleman (1995) menegaskan bahwa murid yang memiliki kesadaran diri (self awareness) tinggi cenderung lebih sukses dibanding murid yang belum. Hal ini berarti murid yang mampu mengenali keberadaan dirinya, baik terkait tujuan hidupnya, memahami kekurangan dan kelebihan dirinya cenderung lebih sukses dalam hasil belajarnya. Namun demikian, supaya murid menemukan minat dan bakatnya diperlukan tuntunan orang dewasa. Peran orang tua dan guru menjadi sangat penting untuk memberikan visi terkait kehidupan siswa dimasa depan. Dasar dasar pendidikan yang berpusat pada murid sesungguhnya sudah saya upayakan dalam kelas. Saya memahami bahwa hal tersebut penting untuk meningkatkan minat belajar siswa. Namun demikian, saya masih belum punya pegangan dasar filosofi khas indonesia. Filosofi yang benar-benar sesuai dengan kodarat bangsa yang merdeka. filosofi yang benar-benar berakar dari budaya bangsa yang sampai saat ini belum nampak kemerdekaan sejatinya. Pada tahun 2018, saya diundang belajar ke kota Sandiego, California USA. Untuk mengikuti diklat pendidikan selama 1 bulan di UCSD. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengunjungi sekolah setara SMA untuk melihat proses pembelajarannya. saat itu kami diajak ke Cathedral Catholic High School. Sekolah yang cukup mewah, baik dalam hal biaya maupun fasilitas yang ditawarkan. Namun kesan yang kami dapatkan adalah apa yang dilakukan guru sekolah tersebut tidak jauh berbeda dengan guru indonesia. Saat pembelajaran matematika, guru memberikan penjelasan materi, lalu mencontohkan cara penyelesaian soal, kemudian memberikan tugas baik secara individual maupun kelompok. Tidak jauh berbeda dengan kegiatan guru di indonesia. Lalu apa yang berbeda?. Kenapa USA jauh lebih maju dari negara indonesia?. Selain karena mereka merdeka lebih dahulu, ternyata sikap siswanya. Siswa sekolah tersebut cenderung sudah memiliki tujuan belajar sejak dini. Mereka lebih memiliki self awareness dibanding siswa kita. Hal ini nampak ketika kita ngobrol dengan beberapa siswa tim baseballnya. siswa tersebut sudah mengetahui akan masuk universitas dengan jalur olahraga. Sehingga tujuan berada disekolah adalah tetap berahan di tim baseball, karena hal itu keahliannya. Terkait dengan mata pelajaran lain, mereka menyatakan asal lulus sudah cukup. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memahami keberadaan dirinya, keunggulan dan kelemahannya. Serta mampu gigih mengembangkan kekuatannya sehingga dapat mencapai tujuannya. Self awareness tersebut tentu tidak muncul tiba-tiba. Pengaruh lingkungan budaya jelas sangat besar. keluarga, sekolah dan masyarakat secara alami akan membentuk sikap anak. Lingkungan sangat memengaruhi sikap siswa. Langsung atau tidak, sejarah bahwa indonesia pernah dijajah belanda, mempengaruhi lingkngan sosial budaya. Salah satu contohnya, sikap siswa kita yang cenderung kurang percaya diri akibat tekanan penjajah. Kolonialisme mendesak rakyat bahwa mereka inferior dan tidak bisa apa-apa. Hal ini tampak dari video kondisi belajar jaman kolonial. Dimana nampak bahwa belajar merupakan sesuatu yang mewah. Hanya sebagian kecil rakyat pribumi yang menikmati. sehingga belajar merupakan hadiah yang perlu untuk terus dipertahankan/diupayakan oleh pribumi terpilih. Supaya pribumi mendapatkan jabatan pada kantor kantor pabrik kolonial. Tujuan penyelenggaran pendidikan pada jaman kolonial adalah untuk memenuhi kebutuhan pekerja pada pabrik dan kantor kantor kolonial. Hal yang diajarkan terbatas agar siswa dapat memenuhi tugas pekerjaan yang dibutuhkan kolonial. Siswa-siswa didik untuk menjadi inferior. bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali melaksanakan perintah penjajah. Kemudian saya membaca tulisan tulisan KHD, yang memahami persis kondisi penjajahan tersebut. Saya merasa bahwa setiap guru di indonesia harus mengenal pikiran beliau. Bahwa pendidikan indonesia harus terkait erat dengan tujuan kemerdekaan NKRI. Memahami alasan indonesia merdeka dapat menjadi jalan bagi para pendidik untuk benar-benar tulus menuntun siswa. Merawat potensi yang ada guna menggerakkan kemajuan bangsa. KHd menyatakan bahwa, Guru mendidik siswa ibarat petani merawat padi. Kodrat padi tentu menghasilkan gabah bukan jagung, bukan jeruk. Sehingga guru harus menyadari kodrat dasar seorang murid. Potensi yang dimiliki dan pengaruh budayanya. Pendidikan adalah upaya guru menuntun siswa supaya mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi tingginya. Siswa memiliki kodrat atau ketetapan sendiri sebagai manusia sesuai takdir yang digariskan, guru bertugas sebagai penuntun agar dapat memperbaiki lakunya. Bagaikan seorang petani yang merawat tanamannya. Kodrat siswa sebagai tanaman tidak akan berubah. Dengan perawatan yang baik, mulai dari persiapan lahan, penyemaian, pemupukan, pembersihan dari gulma diharapkan dapat tumbuh secara optimal dan berkualitas. Pendidik harus memahami kodrat alam dan kondrat zaman. Memahami kodrat alam artinya guru harus peka dengan keadaan sosio-kultural siswanya. Agar siswa selalu belajar dengan bahagia, serta berhasil selamat berinteraksi dengan alam dan lingkungannya. Siswa yang berada dipinggir laut berbeda kebutuhannya dengan siswa pegunungan. Kondisi masyarakat perkotaan juga berbeda dengan masyarakat pedesaan sehingga kondrat siswanya juga berbeda. Terkait kodrat zaman, kebutuhan abad 21 berbeda dengan abad 20. Karenanya guru harus dapat memberikan bekal keterampilan abad 21 agar siswa dapat selamat. Komunikasi tanpa batas, perpindahan manusia yang cepat, teknologi yang berkembang masif dan berlipat menjadi tantangan yg harus dihadapi siswa saat ini. Oleh karenanya guru harus bisa menuntun siswa menghadapi segala bentuk perubahan zaman. Menurut KHD terdapat 5 jenis pengetahuan yang sebaiknya dimiliki oleh guru sebagai seorang pendidik.Beliau memberikan ibarat tukang ukir kayu. Tukang Ukir yang handal harus memiliki kriteria agar menghasilkan karya ukir yanhg baik. Pertama harus mengetahui type kayu yang akan diukir untuk memastikann alat ukir apa yang digunakan. hal ini sesuai dengan guru harus mengetahui karakter dasar siswanya supaya dapat menggunakan strategi yang tepat dalam pengajarannya. Agar berhasil, guru harus mengusai (1)ilmu psikologi (2)Ilmu jasmani. Kemudian Tukang ukir harus memiliki pengetahuan tentang keindahan ukiran. Sama halnya pendidik harus memahami keindahan batin dan lahir. Artinya guru haru memiliki keterampilan dalam hal (3)ilmu etika dan (4) ilmu estetika. Lalu tukang kayu juga harus memiliki pengetahun tentang ukiran ukiran lain yang menjadi tren. Sama halnya guru harus memiliki strategi-strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi jaman. Hal yang dapat segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD adalah berupaya tulus mengenal siswa dengan hati. Sebelumnya, karena berbagai kesibukan dan terlalu banyak siswa yang saya tangani. Saya kurang begitu mengenal siswa. saya hanya tahu namanya, setelah 1 tahun lewat sudah lupa. Padahal setiap siwa tidak sama kondisi fisik, psikis dan lingkungan tempat tinggalnya. KHD menyatakan bahwa setiap muris memiliki kodrat alam yang berbeda. mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa mendadi modal utama untuk meningkatkan keberhasilan belajar. yaitu menghantarkan siswa mengetahui tujuan hidupnya.

Jumat, 24 April 2020

“Saya puas, mahasiswi itu pun puas”



Suatu sore, seorang mahasiswi datang meminta bantuan untuk menyelesaikan tugas daring perkuliahannya.Tugasnya  tentang integral yang sedikit rumit. Sebagai guru matematika SMK. Ia berharap saya dapat membantunya. Namun selepas kuliah, saya tidak lagi mengerjakan soal macam itu. Apalagi  soal integral tersebut terlalu rumit untuk dipelajari anak SMK. Sayapun tidak mengajarkannya, hal yang tidak diajarkan, biasanya terlupakan.  Benar, saya lupa bagaimana menyelesaikannya. Akan tetapi,  status saya adalah pembelajar matematika. Sangat memalukan apabila tidak bisa memberikan bantuan. Harga diri saya sebagai lelaki dan guru matematika dipertaruhkan. Saya harus bisa menjawab soal itu.

Kemudian, saya buka buku-buku kalkulus. Saya googling tentang teknik-teknik pengintegralan. Keterpaksaan itu membuat saya belajar lagi. Ingatan saya mulai kembali lagi. Selang waktu yang tidak sebentar, saya akhirnya berhasil menemukan jawabannya. Meski tanpa upah, saya puas, mahasiswi itu pun puas.

Namun, bukan kepuasan mahasiswi itu yang menjadi perhatian. Saya teringat pembelajaran dengan para siswa. Seringkali ketika pembelajaran matematika. Saya memberikan soal agar siswa berlatih teknik dan operasi penghitungannya. Dimana, terlebih dahulu diberikan rumus, lalu dicontohkan cara penyelesaiannya. Kemudian melalui bimbingan berdarah-darah, siswa menjawabnya.

Akan tetapi, ketika tes diberikan-dengan soal mirip- ternyata banyak siswa yang gagal.  Memang, saya melarang siswa membuka buku catatan. Saya berharap siswa mengingat cara mengerjakan tanpa melihat buku, toh soal tes cuma berbeda angkanya dibanding soal latihan. Tapi ternyata hal itu pekerjaan sulit bagi siswa. Banyak siswa tidak mengingat rumusnya dan lupa cara mengerjakannya.
Saya merasa apa yang saya lakukan sia sia. Usaha saya mengajar dan melatih tidak membekas pada siswa. Padahal, dahulu ketika saya belajar. Cara seperti itu juga dilakukan guru saya. Tetapi mengapa hasilnya berbeda?.  Beberapa teman  guru bilang bahwa siswa sekarang lebih lemah dalam mengingat. Karena, banyak ganguan dari gadgetnya. Siswa sekarang juga kurang gigih, mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain game daripada berlatih dan belajar. Pendapat yang tidak sepenuhnya benar. Namun , motivasi memang mempengaruhi hasil belajar. Mereka mungkin kehilangan motivasi belajar matematika, karena guru mengajar dengan salah.

Berbeda dengan cara saya belajar dengan mahasiswi itu. Pada prosesnya  terdapat tiga hal penting. Pertama, saya dihadapkan pada soal yang harus dipecahkan. Saya merasa saya bisa menyelesaikannya meskipun lupa caranya. Artinya, saya memiliki kemampuan dasar yang cukup untuk menemukan jawabnya. Kedua, saya merasa harus menghadapi tantangan soal itu. Karena  mahasiswi itu percaya bahwa saya mampu menyelesaikannya. Dorongan yang luar biasa. Saya tidak mampu menolaknya. Motivasi yang muncul dari dalam, karena kepercayaan atas kompetensi saya. Ketiga, adanya  perangkat  yang membantu untuk mengingat. Keberadaan buku dan teknologi internet membantu saya mengingat kembali hal-hal yang terlupakan. Ketiga hal itu membuat saya bergairah menyelesaikan soal.  Gairah itu tidak tampak pada kelas disekolah.

Pertanyaannya, bagaimana membangkitkan gairah belajar siswa?. bagaimana meramu ketiga hal penting tersebut dalam pembelajaran. Mungkin, langkah pertama adalah membuka buku kembali, membaca lagi. Terdapat banyak buku yang dapat dipelajari. Salah satunya Buku “Kasmaran Berilmu Pengetahuan” . Prof Iwan Pranoto memberikan gambaran bahwa berilmu pengetahuan merupakan berkat dan membawa keasyikan. Belajar seharusnya seperti mengisi teka-teki silang yang tidak gampang tetapi melahirkan penasaran dan ketagihan pelakunya.

Teknologi dan sains telah mengubah manusia. Termasuk kecakapan hidup yang dibutuhkan pada zamain ini berbeda dari sebelumnya. Sejumlah pekerjaan sudah diambil alih oleh mesin dan computer. Khususnya, pekerjaan dengan keterampilan berpikir tingkat rendah. Karenanya penting untuk menanamkan kepada siswa keterampilan yang belum dapat dilakukan mesin. Seperti pemecahan masalah tidak rutin, berpikir kreatif dan berkomunikasi kompleks.

Apa yang saya lakukan untuk membantu mahasiswi tersebut memang bukan pemecahan masalah yang rumit. Namun, keterampilan penggunaan teknologi untuk membantu menyelesaikan soal, juga merupakan keterampilan penting. Membebankan kemampuan mengingat kepada siswa memang seharusnya dihindari. Google sudah mampu menampung berbagai informasi dengan sistem percariannya yang lebih canggih dibanding manusia manapun. Siswa sudah pasti tergilas apabila bertanding mengingat melawan mesin. Siswa semestinya diberikan kesempatan belajar memanfaatkan sumber informasi yang tersedia. Larangan membuka buku dan internet ketika menyelesaikan soal seharusnya dihindari. Toh, guru pun juga membuka buku atau google ketika lupa atau tidak tahu.

Agar siswa benar-benar berpikir, guru harus berupaya menyediakan soal yang tidak mudah ditemukan jawabnya melalui internet. Pertanyaan dimana jawabnya dapat ditemukan di internet tidak boleh ditugaskan kepada siswa. Hal ini bukan pekerjaan mudah. Tetapi membiarkan siswa belajar dengan  cara lalu sudah tidak relevan lagi. Tantangan masa depan jelas  berbeda dengan hari ini. Gairah belajar siswa harus dimunculkan pada setiap kelas. Agar siswa kasmaran berilmupengetahuan.

Masa tanggap darurat COVID-19 memaksa semuanya untuk mengasingkan diri. Bekerja,belajar dan beribadah dirumah. Waktu terasa melambat. Banyak hal tanpa sengaja terbesit dipikiran. Mungkin ini saatnya bagi saya sebagai seorang guru melakukan refleksi dan kontemplasi.Belajar kembali tentang kecakapan mengajar,  kecakapan yang dibutuhkan siswa dimasa depan. Karena waktu luang merupakan sesuatu yang  langka pada situasi normal.



Jumat, 25 Oktober 2019

Persiapan UNBK SMK Matematika 2020

AYOOO BELAJAR
UNBK SMK tahun 2020 sebentar lagi datang. Supaya mendapatkan hasil yang memuaskan perlu persiapan yang matang. Berikut ini latihan soal yang dapat anda kerjakan untuk melatih kesiapan anda. Latihan soal tersebut dikelompokkan dalam beberapa topik sesuai dengan kisi-kisi UNBK tahun 2020. 
1. ALJABAR
a. Pangkat, Akar dan Logaritma
b. Sistem Persamaan Linier Dua Variabel
c. Program Linier
d. Lingkaran
e. Barisan dan Deret
2. STATISTIKA
a. Penyajian data dalam tabel dan diagram 
b. Ukuran Letak
c. Ukuran Pemusatan Data
3. PELUANG
a. Kaidah Pencacahan
b. Peluang suatu kejadian 

Kamis, 19 Desember 2013

STRATEGI KEPALA SEKOLAH MENYUSUN VISI BERSAMA



Sebagian besar kita pasti sependapat, bahwa di balik kesuksesan lembaga pendidikan, terdapat sosok kepala sekolah yang hebat. Anggapan ini memang wajar mengingat seluruh elemen di sekolah akan menjadi system yang sinergis jika terdapat kepala sekolah yang cerdas, bijak dan visioner. Tetapi apakah asumsi tersebut sudah dibuktikan secara ilmiah?hal ini dapat menjadi topik yang menarik untuk penelitian. Tetapi sebelum melangkah  kesana, pertanyaan pendahuluan yang harus kita jawab adalah bagaimanakah sekolah sukses itu? Kriteria apa yang menjadi acuan untuk mengkategorikan sekolah itu sukses? Apakah sekolah yang rata rata ujian nasionalnya tinggi, ataukah sekolah yang siswanya banyak meraih kejuaraan akademis, atau sekolah yang peminatnya sangat tinggi? Perlu kehati-hatian ketika menyusun kriteria tersebut, karena bisa jadi apa yang kita sebut kesuksesan sebuah sekolah ternyata tidak mempunyai makna penting bagi perjalanan hidup peserta didiknya. Contoh nyata yang terjadi di Negara kita adalah kesuksesan sebuah sekolah di nilai dari kelulusan ujian nasional. Kesuksesan semu yang sama sekali tidak dapat di banggakan karena nilai ujian nasional siswa tidak menjamin kesuksesan masa depan peserta didiknya.
Menurut penulis sekolah sukses adalah sekolah yang mampu menggapai visinya, menjalankan misi dan terus mengembangkannya. Jika di ibaratkan, lembaga pendidikan bagaikan kapal yang berlayar maka arah kemana kapal itu berlayar adalah visi.  Mengembangkan visi dan misi sekolah adalah salah satu tugas kepala sekolah dalam hal kepemimpinan Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Penyusunan visi dan misi sekolah menjadi penting untuk mengukur sejauh mana sekolah melangkah. Acuan keberhasilan sekolah dapat di nilai dari kriteria-kriteria yang muncul dari penjabaran visi-misi.
Visi adalah impian masa depan yang diharapkan menjadi nyata. Visi harus unik dan otentik karena menggabungkan harapan dari sebuah lembaga. Visi sekolah adalah tujuan. Untuk lebih mudah melihat visi adalah dengan melihat hasil tertentu yang ingin di capai sekolah dalam waktu tertentu. Oleh karena itu visi harus terukur dan mempunyai batas waktu. Menurut Steven Covey penulis the 7 habit of highly effective people,visi yang tidak memiliki urgensi dan tenggat penyelesaian menjadi tak lebih dari sekadar angan-angan, jadi akan sangat membantu jika visi tersebut di terjemahkan menjadi daftar singkat berisi target yang realistis dan tonggak khusus. Sedangkan misi adalah alasan untuk melakukan perjalanan. Misi menjawab pertanyaan mengapa seorang anak dan orang tua memilih sebuah lembaga, juga menjawab mengapa pemangku kepentingan mempertahankan keberadaan sekolah.
Banyak kasus, penyusunan visi dan misi sekolah terkadang di buat sekenanya,  mengcopy paste sekolah yang sudah berhasil dan berharap visi dan misi tersebut dapat di jadikan acuan. Kita sering terpesona ketika melakukan study banding ke sekolah maju, dan mengharapkan hal itu juga terjadi di sekolah kita dengan menduplikasi semuanya termasuk visi dan misi sekolah.  Tentu ini sebuah kecerobohan, bagaimana mungkin sekolah mengacu pada sebuah sekolah lain dengan budaya dan sumber daya yang jauh berbeda. Otonomi daerah yang juga berimbas pada otonomi sekolah sebagai satuan pendidikan, memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk mengembangkan visi dan misinya. Oleh karena itu penyusunan visi dan misi sekolah yang tepat adalah langkah wajib bagi lembaga pendidikan.
Keterlibatan semua elemen sekolah sejak awal penyusunan visi dan misi sekolah adalah penting karena dengan begitu semua orang di dalamnya akan merasa memiliki sekolah. Antusiasme guru dan staf akan mengalir jika yang tertera pada visi dan misi sekolah juga merupakan visi dan misi pribadi masing masing. Hal ini juga sebagai sarana kepala sekolah untuk membangkitkan kepercayaan semua elemen di sekolah. Keterbukaan kepala sekolah untuk menggali keunikan dan harapan semua elemen dan pemangku kepentingan di sekolah, menunjukkan rasa percaya kepala sekolah kepada semua elemen sekolah.
Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menyusunnya. Kepala sekolah sebagai pemimpin formal dalam sebuah lembaga dapat saja menyusun dan mendeklarasikan visi dan misi sekolah yang di pimpinnya. Tetapi apakah itu dapat bekerja? Prof. Reinald Kasali berpendapat alasan orang menolak perubahan adalah karena merasa itu bukan dari saya dan saya tidak terlibat didalamnya. Meski visi dan misi yang di rancang kepala sekolah indah bagaikan puisi, tetapi jika hal itu hanya dari kinerja one man show, maka elemen sekolah yang seyogyanya mewujudkan visi dan misi menjadi kurang gairah, dan berakibat tugas kepala sekolah selanjutnya untuk mengkomunikasikan visi dan misi dalam tataran teknis menjadi berat. Dan pada akhirnya visi dan misi sekolah hanya menjadi semacam slogan hiasan kantor saja.
Untuk mewujudkan perubahan yang didambakan, harus ada kepercayaan. Bila budaya sekolah penuh dengan perselisihan internal, komitmen yang sering dilanggar, mental lemah para stafnya, kemampuan yang lemah atau pola pengelolaan yang tidak luwes, perubahan menuju arah lebih baik akan terjadi dengan lambat. Kepala sekolah akan selalu terjerat melakukan pekerjaan kurang penting karena terlalu banyak mengurusi sesuatu yang tidak ada hubungnnya dengan visi sekolah. Penyusunan visi bersama memberikan tauladan dari kepala sekolah kepada seluruh elemen sekolah tentang kepercayaan dan tanggung jawab. Perselisihan internal terjadi karena perbedaan kepentingan. Hal ini wujud dari perbedaan visi dan misi masing masing individu, jika kepala sekolah mampu merangkum visi dan misi pribadi menjadi visi-dan misi bersama, maka kepentingan seluruh elemen sekolah adalah untuk mewujudkan visi dan misi sekolah. Selain itu, pertanggung jawaban terhadap komitmen akan lebih mudah karena visi misi sekolah adalah keinginan bersama, maka komitmen yang menyertainya juga merupakan komitmen bersama yang menuntut komitmen komitmen pribadi sebagai konsekuensinya. Memang tidak mudah mewujudkannya, tetapi dengan integritas moral dan keterbukaan, kepala sekolah dapat memberikan tauladan sebagai dasar bangkitnya kepercayaan.
Tugas kepemimpinan selanjutnya adalah mengkomunikasikan visi-misi bersama menjadi arah sebuah lembaga. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mewujudkan visi menjadi nyata. Kepemimpinan adalah seni tertinggi, kepala sekolah yang memahami ruh kepemimpinan akan lebih mudah mengkomunikasikan ini. Jika kepercayaan dan komunikasi sudah terbentuk, maka dasar kuat menggapai visi sekolah sudah dalam pijakan. Banyak teori kepemimpinan  yang berkembang saat ini, yang paling sesuai menurut penulis adalah pendapat Steven Covey, “kepemimpinan adalah mengkomunikasikan nilai dan potensi seseorang dengan teramat jelas sedemikian hingga dia dapat melihat itu ada pada dirinya”. Pemberdayaan adalah kuncinya, jika kepala sekolah sudah dapat memampukan guru dalam mengembangkan potensinya, maka gairah guru dalam berkiprah di sekolah akan tumbuh subur.

Jumat, 05 April 2013

Melipat Gandakan Kualitas Guru dengan Lesson Study



 Kondisi pendidikan di negeri kita, tanggung jawab guru!
Permasalahan pendidikan yang tiap saat tersaji di media massa memberikan tekanan besar terhadap profesi guru. Tuntutan sebagai ujung tombak pembentuk moral bangsa ditambah dengan kebijakan kurikulum nasional yang selalu berubah ubah semakin menambah kerumitan profesi guru. Tetapi memang hal itulah yang harus di hadapi guru, berhasil tidaknya bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat memang tanggung jawab guru. Tengok saja ketika jepang luluh lantak oleh bom atom Hiroshima Nagasaki dan memaksa mereka menyerah kalah dari amerika pada tahun 1945. Kaisar mereka saat itu segera mendata guru guru yang masih hidup dan pada dekade 60-an jepang kembali menjadi macan asia yang berkembang pesat perekonomiannya. Peningkatan kompetensi guru di Indonesia tak ayal merupakan salah satu jalan keluar yang harus di tempuh jika kita menginginkan bangsa ini bangkit dari keterpurukan.

Guru Harus Berkolaborasi
Berbagai macam cara sudah di tempuh pemerintah guna meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidik dan tenaga kependidikan. Program pelatihan guru yang terpusat melalui diklat dan seminar, jelas di butuhkan oleh guru untuk menyegarkan kembali pengetahuan dan berbagi pengalaman dengan sejawat yang lain. Tetapi terkadang sepulang dari pelatihan, ilmu yang seharusnya di terapkan di kelas lambat laun menguap dan tak lagi di pakai.  Alasan ilmu yang diterima hanya teoritis (kurang aplikatif) dan tidak dapat di terapkan di real kelas seperti kelas microteaching, Sebagian lagi karena kesibukan administratif tugas tambahan dan tidak adanya maintenance (perawatan) terhadap hasil pelatihan memperparah penguapan tersebut.

Sebagian besar diklat memang memfokoskan pelatihannya terhadap kemampuan guru secara individual, artinya kemampuan yang dilatih dan dikembangkan adalah kemampuan guru secara pribadi sebagai aktor di dalam kelasnya sendiri. Sehingga ketika mereka pulang kesekolah seusai pelatihan, energi baru dari pelatihan terbuang karena tidak ada dukungan dari rekan sejawat lain untuk mengembangkannya. Masih sedikit pelatihan guru yang membentuk komunitas guru yang organik, pelatihan terhadap sekelompok guru untuk membuat komunitas yang hidup dan dapat terus menyerap dan mentranformasikan energi keseluruh anggota, saling berkolaborasi untuk terus mengembangkan diri.  

Komunitas guru dapat memberikan dampak besar bagi peningkatan kualitas guru, mereka dapat terus saling belajar, mencoba inovasi dan langsung mempraktekkan bentuk pembelajaran yang paling efektif di kelas. Setelah itu mereka dapat merefleksikan hasil pembelajaran secara terbuka. Selain itu, biaya yang di butuhkan jelas lebih murah, tidak perlu lagi biaya penginapan hotel dan biaya perjalanan karena pelatihan langsung dilaksanakan menyebar di sekolah kantong komunitas guru tersebut.

Open Class/ Lesson Study
Terdapat berbagai model pengembangan profesi yang dapat dilakukan oleh komunitas guru organis salah satunya adalah dengan melaksanakan open class/ lesson study. Lesson study ditujukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson study bukan metode pembelajaran, juga bukan pendekatan pembelajaran. Sebenarnya, Lesson study adalah model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas yang saling membantu dalam belajar untuk membangun komunitas belajar.

Istilah lesson study masih relatif asing di kalangan sebagian besar guru di Indonesia. Sesungguhnya, lesson study telah lama berkembang di Jepang, yakni sekitar abad ke-19. Namun baru masuk dan mulai dikembangkan di Indonesia sekitar akhir 2004 (Ibrohim , 2010). Lesson study adalah suatu proses sistematis yang digunakan oleh guru-guru Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran (Garfield, 2006). Proses sistematis yang dimaksud adalah kerja guru-guru secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajan secara bersiklus dan terus menerus. Menurut Walker (2005) Lesson study adalah suatu metode pengembangan profesional guru. Menurut Lewis (2002) ide yang terkandung didalam lesson study sebenarnya singkat dan sederhana, yakni jika seorang guru ingin meningkatkan pembelajaran, salah satu cara yang paling jelas adalah melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan.

Secara lebih operasional lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegialitas dan mutual learning (saling belajar) untuk membangun komunitas belajar dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru serta meningkatkan kualitas pembelajaran. Lesson study sedikit berbeda dengan monitoring/supervisi KBM yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah. Jika monitoring/supervisi berfokus pada implementasi Plan (RPP) terhadap pelaksanaan pembelajaran (do) yang dilakukan oleh guru, lesson study lebih berfokus bagaimana dampak Plan (RPP) terhadap peserta didik, jadi bagaimana aktifitas siswa belajar itu fokus pengamatan lesson study.


Langkah-langkah Pelaksanaan Lesson study
Dalam praktiknya ada beberapa variasi atau penyesuian cara melaksanakan lesson study. Yang terpenting adalah terbentuk komunitas guru yang dapat membentuk komitmen dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan tersebut. Menurut Ibrohim(2010) secara umum terdapat tiga(3) tahap utama lesson study, yakni: (1) perencanaan (Plan), (2) Pelaksanaan (Do), dan Refleksi (See).

Tahap perencanaan (Plan) bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peserta didik secara efektif serta membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dapat dilakukan sendirian, oleh karena itu di butuhkan komunitas guru yang punya komitmen kuat dan saling memberikan masukan terkait perencanaan pembelajaran. Pada tahap ini beberapa pendidik dapat berkolaborasi untuk memperkaya ide terkait dengan rancangan pembelajaran yang akan dihasilkan, baik dalam aspek pengorganisasian bahan ajar, aspek pedagogis, maupun aspek penyiapan alat bantu pembelajaran. Sebelum ditetapkan sebagai hasil final, semua komponen yang tertuang dalam rancangan pembelajaran disimulasikan. Pada tahap ini juga ditetapkan prosedur pengamatan termasuk instrumen yang diperlukan.

Tahap pelaksanaan (Do) dimaksudkan untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Salah satu anggota komunitas guru bertindak sebagai ”guru model” sedangkan yang lain bertindak sebagai pengamat (observer). Pengamat lainnya (selain anggota kelompok perencana) juga dapat bertindak sebagai observer. Fokus pengamatan diarahkan pada aktivitas belajar peserta didik dengan berpedoman pada prosedur dan intrumen pengamatan yang telah disepakati pada tahap perencanaan, bukan untuk mengevaluasi penampilan guru yang sedang bertugas mengajar. Selama pembelajaran berlangsung, pengamat tidak boleh mengganggu atau mengintervensi kegiatan pembelajaran, tetapi dapat membantu siswa/kelompok siswa jika mereka kesulitan sedangkan guru model tidak mampu menjangkau siswa/kelompok siswa tersebut. Pengamat juga dapat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui video camera atau foto digital untuk keperluan dokumentasi dan atau bahan diskusi pada tahap berikutnya. Kehadiran pengamat di dalam ruang kelas di samping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung. Jadi sebaiknya pengamat dapat secara mobile mengamati seluruh lingkungan di kelas itu, memata-matai apa yang sedang dilakukan oleh peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung.

Tahap refleksi (See) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksananaan pembelajaran. Guru yang telah bertugas sebagai pengajar mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan kesan dalam melaksanakan pembelajaran. Guru model menceritakan hal-hal apa saja yang berhasil dalam pembelajaran dan bagian mana yang terasa kurang. Kesempatan berikutnya diberikan kepada anggota kelompok perencana yang dalam tahap do bertindak sebagai pengamat. Selanjutnya pengamat dari luar diminta menyampaikan komentar dan lesson learned dari pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas peserta didik. Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti guru demi perbaikan. Sebaliknya, pihak yang dikritik harus dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya yang lebih baik.

Manfaat Lesson Study
Serangkaian kegiatan, mulai dari tahap plan sampai see, dilakukan secara kolaboratif. Hal ini secara nyata telah menghasilkan dampak sosiologis yang sangat positif. Kolegialitas antar pendidik dapat terbina dengan baik, tidak ada pendidik yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Mereka juga berbagi pengalaman dan saling belajar. Dengan demikian, melalui serangkaian kegiatan dalam rangka lesson study ini terbentuk atmosfer akademik yang kondusif bagi terciptanya mutual learning (saling belajar). Pada prinsipnya, semua orang yang terlibat dalam lesson study harus memperoleh lesson learned. Dengan demikian lesson study sangat potensial untuk membangun learning community.

Lesson Study di Lumajang
Sampoerna Foundation dengan program Educator Empowerment Program (EEP) telah melaksanakan beberapa pelatihan guru SMA dan SMK di kabupaten lumajang. Program tersebut dimulai tahun 2012 dan di harapkan tuntas menelurkan guru master setelah 3 tahun masa pelatihan. EEP mengenalkan prinsip lesson study dan sudah dua kali melaksanakan open class. Dari dua kali pelaksanaan Open class tersebut pengalaman berbeda kami rasakan. Banyak cara pandang baru dalam mengajar yang kami diskusikan dan kami terapkan selama pelatihan dan hasilnya dapat kami aplikasikan langsung saat pulang kesekolah masing masing. Diharapkan nantinya akan terbentuk komunitas guru yang organis, hidup dan berkembang kemudian menularkan prinsip Lesson Study, membentuk ikatan yang kuat antar guru dalam meningkatkan pengetahuan dan saling berbagi pengalaman. Dengan begitu kualitas guru dapat berkembang demikian juga kualitas pendidikan di lumajang.