Jumat, 24 April 2020

“Saya puas, mahasiswi itu pun puas”



Suatu sore, seorang mahasiswi datang meminta bantuan untuk menyelesaikan tugas daring perkuliahannya.Tugasnya  tentang integral yang sedikit rumit. Sebagai guru matematika SMK. Ia berharap saya dapat membantunya. Namun selepas kuliah, saya tidak lagi mengerjakan soal macam itu. Apalagi  soal integral tersebut terlalu rumit untuk dipelajari anak SMK. Sayapun tidak mengajarkannya, hal yang tidak diajarkan, biasanya terlupakan.  Benar, saya lupa bagaimana menyelesaikannya. Akan tetapi,  status saya adalah pembelajar matematika. Sangat memalukan apabila tidak bisa memberikan bantuan. Harga diri saya sebagai lelaki dan guru matematika dipertaruhkan. Saya harus bisa menjawab soal itu.

Kemudian, saya buka buku-buku kalkulus. Saya googling tentang teknik-teknik pengintegralan. Keterpaksaan itu membuat saya belajar lagi. Ingatan saya mulai kembali lagi. Selang waktu yang tidak sebentar, saya akhirnya berhasil menemukan jawabannya. Meski tanpa upah, saya puas, mahasiswi itu pun puas.

Namun, bukan kepuasan mahasiswi itu yang menjadi perhatian. Saya teringat pembelajaran dengan para siswa. Seringkali ketika pembelajaran matematika. Saya memberikan soal agar siswa berlatih teknik dan operasi penghitungannya. Dimana, terlebih dahulu diberikan rumus, lalu dicontohkan cara penyelesaiannya. Kemudian melalui bimbingan berdarah-darah, siswa menjawabnya.

Akan tetapi, ketika tes diberikan-dengan soal mirip- ternyata banyak siswa yang gagal.  Memang, saya melarang siswa membuka buku catatan. Saya berharap siswa mengingat cara mengerjakan tanpa melihat buku, toh soal tes cuma berbeda angkanya dibanding soal latihan. Tapi ternyata hal itu pekerjaan sulit bagi siswa. Banyak siswa tidak mengingat rumusnya dan lupa cara mengerjakannya.
Saya merasa apa yang saya lakukan sia sia. Usaha saya mengajar dan melatih tidak membekas pada siswa. Padahal, dahulu ketika saya belajar. Cara seperti itu juga dilakukan guru saya. Tetapi mengapa hasilnya berbeda?.  Beberapa teman  guru bilang bahwa siswa sekarang lebih lemah dalam mengingat. Karena, banyak ganguan dari gadgetnya. Siswa sekarang juga kurang gigih, mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain game daripada berlatih dan belajar. Pendapat yang tidak sepenuhnya benar. Namun , motivasi memang mempengaruhi hasil belajar. Mereka mungkin kehilangan motivasi belajar matematika, karena guru mengajar dengan salah.

Berbeda dengan cara saya belajar dengan mahasiswi itu. Pada prosesnya  terdapat tiga hal penting. Pertama, saya dihadapkan pada soal yang harus dipecahkan. Saya merasa saya bisa menyelesaikannya meskipun lupa caranya. Artinya, saya memiliki kemampuan dasar yang cukup untuk menemukan jawabnya. Kedua, saya merasa harus menghadapi tantangan soal itu. Karena  mahasiswi itu percaya bahwa saya mampu menyelesaikannya. Dorongan yang luar biasa. Saya tidak mampu menolaknya. Motivasi yang muncul dari dalam, karena kepercayaan atas kompetensi saya. Ketiga, adanya  perangkat  yang membantu untuk mengingat. Keberadaan buku dan teknologi internet membantu saya mengingat kembali hal-hal yang terlupakan. Ketiga hal itu membuat saya bergairah menyelesaikan soal.  Gairah itu tidak tampak pada kelas disekolah.

Pertanyaannya, bagaimana membangkitkan gairah belajar siswa?. bagaimana meramu ketiga hal penting tersebut dalam pembelajaran. Mungkin, langkah pertama adalah membuka buku kembali, membaca lagi. Terdapat banyak buku yang dapat dipelajari. Salah satunya Buku “Kasmaran Berilmu Pengetahuan” . Prof Iwan Pranoto memberikan gambaran bahwa berilmu pengetahuan merupakan berkat dan membawa keasyikan. Belajar seharusnya seperti mengisi teka-teki silang yang tidak gampang tetapi melahirkan penasaran dan ketagihan pelakunya.

Teknologi dan sains telah mengubah manusia. Termasuk kecakapan hidup yang dibutuhkan pada zamain ini berbeda dari sebelumnya. Sejumlah pekerjaan sudah diambil alih oleh mesin dan computer. Khususnya, pekerjaan dengan keterampilan berpikir tingkat rendah. Karenanya penting untuk menanamkan kepada siswa keterampilan yang belum dapat dilakukan mesin. Seperti pemecahan masalah tidak rutin, berpikir kreatif dan berkomunikasi kompleks.

Apa yang saya lakukan untuk membantu mahasiswi tersebut memang bukan pemecahan masalah yang rumit. Namun, keterampilan penggunaan teknologi untuk membantu menyelesaikan soal, juga merupakan keterampilan penting. Membebankan kemampuan mengingat kepada siswa memang seharusnya dihindari. Google sudah mampu menampung berbagai informasi dengan sistem percariannya yang lebih canggih dibanding manusia manapun. Siswa sudah pasti tergilas apabila bertanding mengingat melawan mesin. Siswa semestinya diberikan kesempatan belajar memanfaatkan sumber informasi yang tersedia. Larangan membuka buku dan internet ketika menyelesaikan soal seharusnya dihindari. Toh, guru pun juga membuka buku atau google ketika lupa atau tidak tahu.

Agar siswa benar-benar berpikir, guru harus berupaya menyediakan soal yang tidak mudah ditemukan jawabnya melalui internet. Pertanyaan dimana jawabnya dapat ditemukan di internet tidak boleh ditugaskan kepada siswa. Hal ini bukan pekerjaan mudah. Tetapi membiarkan siswa belajar dengan  cara lalu sudah tidak relevan lagi. Tantangan masa depan jelas  berbeda dengan hari ini. Gairah belajar siswa harus dimunculkan pada setiap kelas. Agar siswa kasmaran berilmupengetahuan.

Masa tanggap darurat COVID-19 memaksa semuanya untuk mengasingkan diri. Bekerja,belajar dan beribadah dirumah. Waktu terasa melambat. Banyak hal tanpa sengaja terbesit dipikiran. Mungkin ini saatnya bagi saya sebagai seorang guru melakukan refleksi dan kontemplasi.Belajar kembali tentang kecakapan mengajar,  kecakapan yang dibutuhkan siswa dimasa depan. Karena waktu luang merupakan sesuatu yang  langka pada situasi normal.



Tidak ada komentar: