Kamis, 19 Desember 2013

STRATEGI KEPALA SEKOLAH MENYUSUN VISI BERSAMA



Sebagian besar kita pasti sependapat, bahwa di balik kesuksesan lembaga pendidikan, terdapat sosok kepala sekolah yang hebat. Anggapan ini memang wajar mengingat seluruh elemen di sekolah akan menjadi system yang sinergis jika terdapat kepala sekolah yang cerdas, bijak dan visioner. Tetapi apakah asumsi tersebut sudah dibuktikan secara ilmiah?hal ini dapat menjadi topik yang menarik untuk penelitian. Tetapi sebelum melangkah  kesana, pertanyaan pendahuluan yang harus kita jawab adalah bagaimanakah sekolah sukses itu? Kriteria apa yang menjadi acuan untuk mengkategorikan sekolah itu sukses? Apakah sekolah yang rata rata ujian nasionalnya tinggi, ataukah sekolah yang siswanya banyak meraih kejuaraan akademis, atau sekolah yang peminatnya sangat tinggi? Perlu kehati-hatian ketika menyusun kriteria tersebut, karena bisa jadi apa yang kita sebut kesuksesan sebuah sekolah ternyata tidak mempunyai makna penting bagi perjalanan hidup peserta didiknya. Contoh nyata yang terjadi di Negara kita adalah kesuksesan sebuah sekolah di nilai dari kelulusan ujian nasional. Kesuksesan semu yang sama sekali tidak dapat di banggakan karena nilai ujian nasional siswa tidak menjamin kesuksesan masa depan peserta didiknya.
Menurut penulis sekolah sukses adalah sekolah yang mampu menggapai visinya, menjalankan misi dan terus mengembangkannya. Jika di ibaratkan, lembaga pendidikan bagaikan kapal yang berlayar maka arah kemana kapal itu berlayar adalah visi.  Mengembangkan visi dan misi sekolah adalah salah satu tugas kepala sekolah dalam hal kepemimpinan Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Penyusunan visi dan misi sekolah menjadi penting untuk mengukur sejauh mana sekolah melangkah. Acuan keberhasilan sekolah dapat di nilai dari kriteria-kriteria yang muncul dari penjabaran visi-misi.
Visi adalah impian masa depan yang diharapkan menjadi nyata. Visi harus unik dan otentik karena menggabungkan harapan dari sebuah lembaga. Visi sekolah adalah tujuan. Untuk lebih mudah melihat visi adalah dengan melihat hasil tertentu yang ingin di capai sekolah dalam waktu tertentu. Oleh karena itu visi harus terukur dan mempunyai batas waktu. Menurut Steven Covey penulis the 7 habit of highly effective people,visi yang tidak memiliki urgensi dan tenggat penyelesaian menjadi tak lebih dari sekadar angan-angan, jadi akan sangat membantu jika visi tersebut di terjemahkan menjadi daftar singkat berisi target yang realistis dan tonggak khusus. Sedangkan misi adalah alasan untuk melakukan perjalanan. Misi menjawab pertanyaan mengapa seorang anak dan orang tua memilih sebuah lembaga, juga menjawab mengapa pemangku kepentingan mempertahankan keberadaan sekolah.
Banyak kasus, penyusunan visi dan misi sekolah terkadang di buat sekenanya,  mengcopy paste sekolah yang sudah berhasil dan berharap visi dan misi tersebut dapat di jadikan acuan. Kita sering terpesona ketika melakukan study banding ke sekolah maju, dan mengharapkan hal itu juga terjadi di sekolah kita dengan menduplikasi semuanya termasuk visi dan misi sekolah.  Tentu ini sebuah kecerobohan, bagaimana mungkin sekolah mengacu pada sebuah sekolah lain dengan budaya dan sumber daya yang jauh berbeda. Otonomi daerah yang juga berimbas pada otonomi sekolah sebagai satuan pendidikan, memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk mengembangkan visi dan misinya. Oleh karena itu penyusunan visi dan misi sekolah yang tepat adalah langkah wajib bagi lembaga pendidikan.
Keterlibatan semua elemen sekolah sejak awal penyusunan visi dan misi sekolah adalah penting karena dengan begitu semua orang di dalamnya akan merasa memiliki sekolah. Antusiasme guru dan staf akan mengalir jika yang tertera pada visi dan misi sekolah juga merupakan visi dan misi pribadi masing masing. Hal ini juga sebagai sarana kepala sekolah untuk membangkitkan kepercayaan semua elemen di sekolah. Keterbukaan kepala sekolah untuk menggali keunikan dan harapan semua elemen dan pemangku kepentingan di sekolah, menunjukkan rasa percaya kepala sekolah kepada semua elemen sekolah.
Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menyusunnya. Kepala sekolah sebagai pemimpin formal dalam sebuah lembaga dapat saja menyusun dan mendeklarasikan visi dan misi sekolah yang di pimpinnya. Tetapi apakah itu dapat bekerja? Prof. Reinald Kasali berpendapat alasan orang menolak perubahan adalah karena merasa itu bukan dari saya dan saya tidak terlibat didalamnya. Meski visi dan misi yang di rancang kepala sekolah indah bagaikan puisi, tetapi jika hal itu hanya dari kinerja one man show, maka elemen sekolah yang seyogyanya mewujudkan visi dan misi menjadi kurang gairah, dan berakibat tugas kepala sekolah selanjutnya untuk mengkomunikasikan visi dan misi dalam tataran teknis menjadi berat. Dan pada akhirnya visi dan misi sekolah hanya menjadi semacam slogan hiasan kantor saja.
Untuk mewujudkan perubahan yang didambakan, harus ada kepercayaan. Bila budaya sekolah penuh dengan perselisihan internal, komitmen yang sering dilanggar, mental lemah para stafnya, kemampuan yang lemah atau pola pengelolaan yang tidak luwes, perubahan menuju arah lebih baik akan terjadi dengan lambat. Kepala sekolah akan selalu terjerat melakukan pekerjaan kurang penting karena terlalu banyak mengurusi sesuatu yang tidak ada hubungnnya dengan visi sekolah. Penyusunan visi bersama memberikan tauladan dari kepala sekolah kepada seluruh elemen sekolah tentang kepercayaan dan tanggung jawab. Perselisihan internal terjadi karena perbedaan kepentingan. Hal ini wujud dari perbedaan visi dan misi masing masing individu, jika kepala sekolah mampu merangkum visi dan misi pribadi menjadi visi-dan misi bersama, maka kepentingan seluruh elemen sekolah adalah untuk mewujudkan visi dan misi sekolah. Selain itu, pertanggung jawaban terhadap komitmen akan lebih mudah karena visi misi sekolah adalah keinginan bersama, maka komitmen yang menyertainya juga merupakan komitmen bersama yang menuntut komitmen komitmen pribadi sebagai konsekuensinya. Memang tidak mudah mewujudkannya, tetapi dengan integritas moral dan keterbukaan, kepala sekolah dapat memberikan tauladan sebagai dasar bangkitnya kepercayaan.
Tugas kepemimpinan selanjutnya adalah mengkomunikasikan visi-misi bersama menjadi arah sebuah lembaga. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mewujudkan visi menjadi nyata. Kepemimpinan adalah seni tertinggi, kepala sekolah yang memahami ruh kepemimpinan akan lebih mudah mengkomunikasikan ini. Jika kepercayaan dan komunikasi sudah terbentuk, maka dasar kuat menggapai visi sekolah sudah dalam pijakan. Banyak teori kepemimpinan  yang berkembang saat ini, yang paling sesuai menurut penulis adalah pendapat Steven Covey, “kepemimpinan adalah mengkomunikasikan nilai dan potensi seseorang dengan teramat jelas sedemikian hingga dia dapat melihat itu ada pada dirinya”. Pemberdayaan adalah kuncinya, jika kepala sekolah sudah dapat memampukan guru dalam mengembangkan potensinya, maka gairah guru dalam berkiprah di sekolah akan tumbuh subur.

Tidak ada komentar: