Sebagian besar kita pasti sependapat, bahwa di balik kesuksesan lembaga pendidikan,
terdapat sosok kepala sekolah yang hebat. Anggapan ini memang wajar mengingat
seluruh elemen di sekolah akan menjadi system yang sinergis jika terdapat
kepala sekolah yang cerdas, bijak dan visioner. Tetapi apakah asumsi tersebut
sudah dibuktikan secara ilmiah?hal ini dapat menjadi topik yang menarik untuk penelitian. Tetapi
sebelum melangkah kesana, pertanyaan
pendahuluan yang harus kita jawab adalah bagaimanakah sekolah sukses itu?
Kriteria apa yang menjadi acuan untuk mengkategorikan sekolah itu sukses?
Apakah sekolah yang rata rata ujian nasionalnya tinggi, ataukah sekolah yang
siswanya banyak meraih kejuaraan akademis, atau sekolah
yang peminatnya sangat tinggi? Perlu kehati-hatian ketika menyusun kriteria tersebut, karena bisa jadi apa yang kita sebut
kesuksesan sebuah sekolah ternyata tidak mempunyai makna penting bagi
perjalanan hidup peserta didiknya. Contoh nyata yang terjadi di Negara kita
adalah kesuksesan sebuah sekolah di nilai dari kelulusan ujian nasional.
Kesuksesan semu yang sama sekali tidak dapat di banggakan karena nilai ujian
nasional siswa tidak menjamin kesuksesan masa depan peserta didiknya.
Menurut penulis sekolah sukses adalah sekolah
yang mampu menggapai visinya, menjalankan misi dan terus mengembangkannya. Jika
di ibaratkan, lembaga pendidikan bagaikan kapal yang berlayar maka arah kemana
kapal itu berlayar adalah visi.
Mengembangkan visi dan misi sekolah adalah salah satu tugas kepala
sekolah dalam hal kepemimpinan Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah. Penyusunan visi dan misi sekolah menjadi penting untuk
mengukur sejauh mana sekolah melangkah. Acuan keberhasilan sekolah dapat di
nilai dari kriteria-kriteria yang muncul dari penjabaran visi-misi.
Visi adalah
impian masa depan yang diharapkan menjadi nyata. Visi harus unik dan otentik
karena menggabungkan harapan dari sebuah lembaga. Visi sekolah adalah tujuan.
Untuk lebih mudah melihat visi adalah dengan melihat hasil tertentu yang ingin
di capai sekolah dalam waktu tertentu. Oleh karena itu visi harus terukur dan
mempunyai batas waktu. Menurut Steven Covey penulis the 7 habit of highly effective people,visi
yang tidak memiliki urgensi dan tenggat penyelesaian menjadi tak lebih dari
sekadar angan-angan, jadi akan sangat membantu jika visi tersebut di
terjemahkan menjadi daftar singkat berisi target yang realistis dan tonggak
khusus. Sedangkan misi adalah alasan untuk melakukan perjalanan. Misi menjawab
pertanyaan mengapa seorang anak dan orang tua memilih sebuah lembaga, juga
menjawab mengapa pemangku kepentingan mempertahankan keberadaan sekolah.
Banyak kasus, penyusunan
visi dan misi sekolah terkadang di buat sekenanya, mengcopy paste sekolah yang sudah berhasil
dan berharap visi dan misi tersebut dapat di jadikan acuan. Kita sering
terpesona ketika melakukan study banding ke sekolah maju, dan mengharapkan hal itu juga terjadi di
sekolah kita dengan menduplikasi semuanya termasuk visi dan misi sekolah. Tentu ini sebuah kecerobohan, bagaimana
mungkin sekolah mengacu pada sebuah sekolah lain dengan budaya dan sumber daya
yang jauh berbeda. Otonomi daerah yang juga berimbas pada otonomi sekolah
sebagai satuan pendidikan, memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk
mengembangkan visi dan misinya. Oleh karena itu penyusunan visi dan misi
sekolah yang tepat adalah langkah wajib bagi lembaga pendidikan.
Keterlibatan
semua elemen sekolah sejak awal penyusunan visi dan misi sekolah adalah penting
karena dengan begitu semua orang di dalamnya akan merasa memiliki sekolah.
Antusiasme guru dan staf akan mengalir jika yang tertera pada visi dan misi
sekolah juga merupakan visi dan misi pribadi masing masing. Hal ini juga
sebagai sarana kepala sekolah untuk membangkitkan kepercayaan semua elemen di
sekolah. Keterbukaan kepala sekolah untuk menggali keunikan dan harapan semua
elemen dan pemangku kepentingan di sekolah, menunjukkan rasa percaya kepala
sekolah kepada semua elemen sekolah.
Kemudian, pertanyaan
selanjutnya adalah bagaimana cara menyusunnya. Kepala sekolah sebagai pemimpin
formal dalam sebuah lembaga dapat saja menyusun dan mendeklarasikan visi dan
misi sekolah yang di pimpinnya. Tetapi apakah itu dapat bekerja? Prof. Reinald
Kasali berpendapat alasan orang menolak perubahan adalah karena merasa
itu bukan dari saya dan saya tidak terlibat didalamnya. Meski visi dan misi
yang di rancang kepala sekolah indah bagaikan puisi, tetapi jika hal itu hanya dari kinerja one man show, maka elemen sekolah yang
seyogyanya mewujudkan visi dan misi
menjadi kurang gairah, dan berakibat tugas kepala sekolah selanjutnya untuk
mengkomunikasikan visi dan misi dalam tataran teknis menjadi berat. Dan pada
akhirnya visi dan misi sekolah hanya menjadi semacam slogan hiasan kantor saja.
Untuk
mewujudkan perubahan yang didambakan, harus ada kepercayaan. Bila budaya
sekolah penuh dengan perselisihan internal, komitmen yang sering dilanggar,
mental lemah para stafnya, kemampuan yang lemah atau pola pengelolaan yang
tidak luwes, perubahan menuju arah lebih baik akan terjadi dengan lambat.
Kepala sekolah akan selalu terjerat melakukan pekerjaan kurang penting karena
terlalu banyak mengurusi sesuatu yang tidak ada hubungnnya dengan visi sekolah.
Penyusunan visi bersama memberikan tauladan dari kepala sekolah kepada seluruh
elemen sekolah tentang kepercayaan dan tanggung jawab. Perselisihan internal
terjadi karena perbedaan kepentingan. Hal ini wujud dari perbedaan visi dan
misi masing masing individu, jika kepala sekolah mampu merangkum visi dan misi
pribadi menjadi visi-dan misi bersama, maka kepentingan seluruh elemen sekolah
adalah untuk mewujudkan visi dan misi sekolah. Selain itu, pertanggung jawaban
terhadap komitmen akan lebih mudah karena visi misi sekolah adalah keinginan
bersama, maka komitmen yang menyertainya juga merupakan komitmen bersama yang
menuntut komitmen komitmen pribadi sebagai konsekuensinya. Memang tidak mudah
mewujudkannya, tetapi dengan integritas moral dan keterbukaan, kepala sekolah
dapat memberikan tauladan sebagai dasar bangkitnya kepercayaan.
Tugas kepemimpinan selanjutnya adalah mengkomunikasikan visi-misi bersama menjadi
arah sebuah lembaga. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mewujudkan
visi menjadi nyata. Kepemimpinan adalah seni tertinggi, kepala sekolah yang
memahami ruh kepemimpinan akan lebih mudah mengkomunikasikan ini. Jika
kepercayaan dan komunikasi sudah terbentuk, maka dasar kuat menggapai visi
sekolah sudah dalam pijakan. Banyak teori kepemimpinan yang berkembang saat ini, yang paling sesuai
menurut penulis adalah pendapat Steven Covey, “kepemimpinan adalah mengkomunikasikan nilai dan potensi seseorang dengan
teramat jelas sedemikian hingga dia dapat melihat itu ada pada dirinya”.
Pemberdayaan adalah kuncinya, jika kepala sekolah sudah dapat memampukan guru
dalam mengembangkan potensinya, maka gairah guru dalam berkiprah di sekolah
akan tumbuh subur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar