Suatu sore, seorang mahasiswi datang meminta bantuan untuk
menyelesaikan tugas daring perkuliahannya.Tugasnya tentang integral yang sedikit rumit. Sebagai
guru matematika SMK. Ia berharap saya dapat membantunya. Namun selepas kuliah, saya
tidak lagi mengerjakan soal macam itu. Apalagi
soal integral tersebut terlalu rumit untuk dipelajari anak SMK. Sayapun
tidak mengajarkannya, hal yang tidak diajarkan, biasanya terlupakan. Benar, saya lupa bagaimana menyelesaikannya. Akan
tetapi, status saya adalah pembelajar
matematika. Sangat memalukan apabila tidak bisa memberikan bantuan. Harga diri
saya sebagai lelaki dan guru matematika dipertaruhkan. Saya harus bisa menjawab
soal itu.
Kemudian, saya buka buku-buku kalkulus. Saya googling
tentang teknik-teknik pengintegralan. Keterpaksaan itu membuat saya belajar
lagi. Ingatan saya mulai kembali lagi. Selang waktu yang tidak sebentar, saya akhirnya
berhasil menemukan jawabannya. Meski tanpa upah, saya puas, mahasiswi itu pun
puas.
Namun, bukan kepuasan mahasiswi itu yang menjadi perhatian. Saya
teringat pembelajaran dengan para siswa. Seringkali ketika pembelajaran
matematika. Saya memberikan soal agar siswa berlatih teknik dan operasi
penghitungannya. Dimana, terlebih dahulu diberikan rumus, lalu dicontohkan cara
penyelesaiannya. Kemudian melalui bimbingan berdarah-darah, siswa menjawabnya.
Akan tetapi, ketika tes
diberikan-dengan soal mirip- ternyata banyak siswa yang gagal. Memang, saya melarang siswa membuka buku
catatan. Saya berharap siswa mengingat cara mengerjakan tanpa melihat buku, toh
soal tes cuma berbeda angkanya dibanding soal latihan. Tapi ternyata hal itu
pekerjaan sulit bagi siswa. Banyak siswa tidak mengingat rumusnya dan lupa cara
mengerjakannya.
Saya merasa apa yang saya lakukan sia sia. Usaha saya
mengajar dan melatih tidak membekas pada siswa. Padahal, dahulu ketika saya
belajar. Cara seperti itu juga dilakukan guru saya. Tetapi mengapa hasilnya
berbeda?. Beberapa teman guru bilang bahwa siswa sekarang lebih lemah
dalam mengingat. Karena, banyak ganguan dari gadgetnya. Siswa sekarang juga
kurang gigih, mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain game
daripada berlatih dan belajar. Pendapat yang tidak sepenuhnya benar. Namun ,
motivasi memang mempengaruhi hasil belajar. Mereka mungkin kehilangan motivasi
belajar matematika, karena guru mengajar dengan salah.
Berbeda dengan cara saya belajar dengan mahasiswi itu. Pada
prosesnya terdapat tiga hal penting. Pertama,
saya dihadapkan pada soal yang harus dipecahkan. Saya merasa saya bisa
menyelesaikannya meskipun lupa caranya. Artinya, saya memiliki kemampuan dasar
yang cukup untuk menemukan jawabnya. Kedua, saya merasa harus menghadapi
tantangan soal itu. Karena mahasiswi itu
percaya bahwa saya mampu menyelesaikannya. Dorongan yang luar biasa. Saya tidak
mampu menolaknya. Motivasi yang muncul dari dalam, karena kepercayaan atas
kompetensi saya. Ketiga, adanya
perangkat yang membantu untuk
mengingat. Keberadaan buku dan teknologi internet membantu saya mengingat
kembali hal-hal yang terlupakan. Ketiga hal itu membuat saya bergairah
menyelesaikan soal. Gairah itu tidak
tampak pada kelas disekolah.
Pertanyaannya, bagaimana membangkitkan gairah belajar
siswa?. bagaimana meramu ketiga hal penting tersebut dalam pembelajaran. Mungkin,
langkah pertama adalah membuka buku kembali, membaca lagi. Terdapat banyak buku
yang dapat dipelajari. Salah satunya Buku “Kasmaran Berilmu Pengetahuan” . Prof
Iwan Pranoto memberikan gambaran bahwa berilmu pengetahuan merupakan berkat dan
membawa keasyikan. Belajar seharusnya seperti mengisi teka-teki silang yang
tidak gampang tetapi melahirkan penasaran dan ketagihan pelakunya.
Teknologi dan sains telah mengubah manusia. Termasuk
kecakapan hidup yang dibutuhkan pada zamain ini berbeda dari sebelumnya. Sejumlah
pekerjaan sudah diambil alih oleh mesin dan computer. Khususnya, pekerjaan
dengan keterampilan berpikir tingkat rendah. Karenanya penting untuk menanamkan
kepada siswa keterampilan yang belum dapat dilakukan mesin. Seperti pemecahan
masalah tidak rutin, berpikir kreatif dan berkomunikasi kompleks.
Apa yang saya lakukan
untuk membantu mahasiswi tersebut memang bukan pemecahan masalah yang rumit.
Namun, keterampilan penggunaan teknologi untuk membantu menyelesaikan soal, juga
merupakan keterampilan penting. Membebankan kemampuan mengingat kepada siswa
memang seharusnya dihindari. Google sudah mampu menampung berbagai informasi
dengan sistem percariannya yang lebih canggih dibanding manusia manapun. Siswa
sudah pasti tergilas apabila bertanding mengingat melawan mesin. Siswa
semestinya diberikan kesempatan belajar memanfaatkan sumber informasi yang
tersedia. Larangan membuka buku dan internet ketika menyelesaikan soal
seharusnya dihindari. Toh, guru pun juga membuka buku atau google ketika lupa
atau tidak tahu.
Agar siswa benar-benar berpikir, guru harus berupaya
menyediakan soal yang tidak mudah ditemukan jawabnya melalui internet. Pertanyaan
dimana jawabnya dapat ditemukan di internet tidak boleh ditugaskan kepada
siswa. Hal ini bukan pekerjaan mudah. Tetapi membiarkan siswa belajar
dengan cara lalu sudah tidak relevan
lagi. Tantangan masa depan jelas berbeda
dengan hari ini. Gairah belajar siswa harus dimunculkan pada setiap kelas. Agar
siswa kasmaran berilmupengetahuan.
Masa tanggap darurat COVID-19 memaksa semuanya untuk mengasingkan
diri. Bekerja,belajar dan beribadah dirumah. Waktu terasa melambat. Banyak hal
tanpa sengaja terbesit dipikiran. Mungkin ini saatnya bagi saya sebagai seorang
guru melakukan refleksi dan kontemplasi.Belajar kembali tentang kecakapan
mengajar, kecakapan yang dibutuhkan
siswa dimasa depan. Karena waktu luang merupakan sesuatu yang langka pada situasi normal.