Jumat, 05 April 2013

Melipat Gandakan Kualitas Guru dengan Lesson Study



 Kondisi pendidikan di negeri kita, tanggung jawab guru!
Permasalahan pendidikan yang tiap saat tersaji di media massa memberikan tekanan besar terhadap profesi guru. Tuntutan sebagai ujung tombak pembentuk moral bangsa ditambah dengan kebijakan kurikulum nasional yang selalu berubah ubah semakin menambah kerumitan profesi guru. Tetapi memang hal itulah yang harus di hadapi guru, berhasil tidaknya bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat memang tanggung jawab guru. Tengok saja ketika jepang luluh lantak oleh bom atom Hiroshima Nagasaki dan memaksa mereka menyerah kalah dari amerika pada tahun 1945. Kaisar mereka saat itu segera mendata guru guru yang masih hidup dan pada dekade 60-an jepang kembali menjadi macan asia yang berkembang pesat perekonomiannya. Peningkatan kompetensi guru di Indonesia tak ayal merupakan salah satu jalan keluar yang harus di tempuh jika kita menginginkan bangsa ini bangkit dari keterpurukan.

Guru Harus Berkolaborasi
Berbagai macam cara sudah di tempuh pemerintah guna meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidik dan tenaga kependidikan. Program pelatihan guru yang terpusat melalui diklat dan seminar, jelas di butuhkan oleh guru untuk menyegarkan kembali pengetahuan dan berbagi pengalaman dengan sejawat yang lain. Tetapi terkadang sepulang dari pelatihan, ilmu yang seharusnya di terapkan di kelas lambat laun menguap dan tak lagi di pakai.  Alasan ilmu yang diterima hanya teoritis (kurang aplikatif) dan tidak dapat di terapkan di real kelas seperti kelas microteaching, Sebagian lagi karena kesibukan administratif tugas tambahan dan tidak adanya maintenance (perawatan) terhadap hasil pelatihan memperparah penguapan tersebut.

Sebagian besar diklat memang memfokoskan pelatihannya terhadap kemampuan guru secara individual, artinya kemampuan yang dilatih dan dikembangkan adalah kemampuan guru secara pribadi sebagai aktor di dalam kelasnya sendiri. Sehingga ketika mereka pulang kesekolah seusai pelatihan, energi baru dari pelatihan terbuang karena tidak ada dukungan dari rekan sejawat lain untuk mengembangkannya. Masih sedikit pelatihan guru yang membentuk komunitas guru yang organik, pelatihan terhadap sekelompok guru untuk membuat komunitas yang hidup dan dapat terus menyerap dan mentranformasikan energi keseluruh anggota, saling berkolaborasi untuk terus mengembangkan diri.  

Komunitas guru dapat memberikan dampak besar bagi peningkatan kualitas guru, mereka dapat terus saling belajar, mencoba inovasi dan langsung mempraktekkan bentuk pembelajaran yang paling efektif di kelas. Setelah itu mereka dapat merefleksikan hasil pembelajaran secara terbuka. Selain itu, biaya yang di butuhkan jelas lebih murah, tidak perlu lagi biaya penginapan hotel dan biaya perjalanan karena pelatihan langsung dilaksanakan menyebar di sekolah kantong komunitas guru tersebut.

Open Class/ Lesson Study
Terdapat berbagai model pengembangan profesi yang dapat dilakukan oleh komunitas guru organis salah satunya adalah dengan melaksanakan open class/ lesson study. Lesson study ditujukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson study bukan metode pembelajaran, juga bukan pendekatan pembelajaran. Sebenarnya, Lesson study adalah model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas yang saling membantu dalam belajar untuk membangun komunitas belajar.

Istilah lesson study masih relatif asing di kalangan sebagian besar guru di Indonesia. Sesungguhnya, lesson study telah lama berkembang di Jepang, yakni sekitar abad ke-19. Namun baru masuk dan mulai dikembangkan di Indonesia sekitar akhir 2004 (Ibrohim , 2010). Lesson study adalah suatu proses sistematis yang digunakan oleh guru-guru Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran (Garfield, 2006). Proses sistematis yang dimaksud adalah kerja guru-guru secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajan secara bersiklus dan terus menerus. Menurut Walker (2005) Lesson study adalah suatu metode pengembangan profesional guru. Menurut Lewis (2002) ide yang terkandung didalam lesson study sebenarnya singkat dan sederhana, yakni jika seorang guru ingin meningkatkan pembelajaran, salah satu cara yang paling jelas adalah melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan.

Secara lebih operasional lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegialitas dan mutual learning (saling belajar) untuk membangun komunitas belajar dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru serta meningkatkan kualitas pembelajaran. Lesson study sedikit berbeda dengan monitoring/supervisi KBM yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah. Jika monitoring/supervisi berfokus pada implementasi Plan (RPP) terhadap pelaksanaan pembelajaran (do) yang dilakukan oleh guru, lesson study lebih berfokus bagaimana dampak Plan (RPP) terhadap peserta didik, jadi bagaimana aktifitas siswa belajar itu fokus pengamatan lesson study.


Langkah-langkah Pelaksanaan Lesson study
Dalam praktiknya ada beberapa variasi atau penyesuian cara melaksanakan lesson study. Yang terpenting adalah terbentuk komunitas guru yang dapat membentuk komitmen dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan tersebut. Menurut Ibrohim(2010) secara umum terdapat tiga(3) tahap utama lesson study, yakni: (1) perencanaan (Plan), (2) Pelaksanaan (Do), dan Refleksi (See).

Tahap perencanaan (Plan) bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peserta didik secara efektif serta membangkitkan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dapat dilakukan sendirian, oleh karena itu di butuhkan komunitas guru yang punya komitmen kuat dan saling memberikan masukan terkait perencanaan pembelajaran. Pada tahap ini beberapa pendidik dapat berkolaborasi untuk memperkaya ide terkait dengan rancangan pembelajaran yang akan dihasilkan, baik dalam aspek pengorganisasian bahan ajar, aspek pedagogis, maupun aspek penyiapan alat bantu pembelajaran. Sebelum ditetapkan sebagai hasil final, semua komponen yang tertuang dalam rancangan pembelajaran disimulasikan. Pada tahap ini juga ditetapkan prosedur pengamatan termasuk instrumen yang diperlukan.

Tahap pelaksanaan (Do) dimaksudkan untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Salah satu anggota komunitas guru bertindak sebagai ”guru model” sedangkan yang lain bertindak sebagai pengamat (observer). Pengamat lainnya (selain anggota kelompok perencana) juga dapat bertindak sebagai observer. Fokus pengamatan diarahkan pada aktivitas belajar peserta didik dengan berpedoman pada prosedur dan intrumen pengamatan yang telah disepakati pada tahap perencanaan, bukan untuk mengevaluasi penampilan guru yang sedang bertugas mengajar. Selama pembelajaran berlangsung, pengamat tidak boleh mengganggu atau mengintervensi kegiatan pembelajaran, tetapi dapat membantu siswa/kelompok siswa jika mereka kesulitan sedangkan guru model tidak mampu menjangkau siswa/kelompok siswa tersebut. Pengamat juga dapat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui video camera atau foto digital untuk keperluan dokumentasi dan atau bahan diskusi pada tahap berikutnya. Kehadiran pengamat di dalam ruang kelas di samping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung. Jadi sebaiknya pengamat dapat secara mobile mengamati seluruh lingkungan di kelas itu, memata-matai apa yang sedang dilakukan oleh peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung.

Tahap refleksi (See) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksananaan pembelajaran. Guru yang telah bertugas sebagai pengajar mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan kesan dalam melaksanakan pembelajaran. Guru model menceritakan hal-hal apa saja yang berhasil dalam pembelajaran dan bagian mana yang terasa kurang. Kesempatan berikutnya diberikan kepada anggota kelompok perencana yang dalam tahap do bertindak sebagai pengamat. Selanjutnya pengamat dari luar diminta menyampaikan komentar dan lesson learned dari pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas peserta didik. Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti guru demi perbaikan. Sebaliknya, pihak yang dikritik harus dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang kembali pembelajaran berikutnya yang lebih baik.

Manfaat Lesson Study
Serangkaian kegiatan, mulai dari tahap plan sampai see, dilakukan secara kolaboratif. Hal ini secara nyata telah menghasilkan dampak sosiologis yang sangat positif. Kolegialitas antar pendidik dapat terbina dengan baik, tidak ada pendidik yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Mereka juga berbagi pengalaman dan saling belajar. Dengan demikian, melalui serangkaian kegiatan dalam rangka lesson study ini terbentuk atmosfer akademik yang kondusif bagi terciptanya mutual learning (saling belajar). Pada prinsipnya, semua orang yang terlibat dalam lesson study harus memperoleh lesson learned. Dengan demikian lesson study sangat potensial untuk membangun learning community.

Lesson Study di Lumajang
Sampoerna Foundation dengan program Educator Empowerment Program (EEP) telah melaksanakan beberapa pelatihan guru SMA dan SMK di kabupaten lumajang. Program tersebut dimulai tahun 2012 dan di harapkan tuntas menelurkan guru master setelah 3 tahun masa pelatihan. EEP mengenalkan prinsip lesson study dan sudah dua kali melaksanakan open class. Dari dua kali pelaksanaan Open class tersebut pengalaman berbeda kami rasakan. Banyak cara pandang baru dalam mengajar yang kami diskusikan dan kami terapkan selama pelatihan dan hasilnya dapat kami aplikasikan langsung saat pulang kesekolah masing masing. Diharapkan nantinya akan terbentuk komunitas guru yang organis, hidup dan berkembang kemudian menularkan prinsip Lesson Study, membentuk ikatan yang kuat antar guru dalam meningkatkan pengetahuan dan saling berbagi pengalaman. Dengan begitu kualitas guru dapat berkembang demikian juga kualitas pendidikan di lumajang.